+ -

Dopamine Attack, Rumahku Art Cafe

DOPAMINE ATTACK

ART EXHIBITION OF 
DONI DERMAWAN,
GUMILAR LUKISANI, 
ISNAIN BAHAR SASMOYO, 
RAKA ADITYATAMA
Writer : Arief Yulindra Priyantoro

29 Juni - 13 Juli 2013
Rumahkuart Cafe, Puri Cendrawasih Kavling 6, Magelang

Opening : Sabtu, 29 Juni 2013, 19.00 WIB

Fun, bersenang-senang adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang sedang mereka lakukan. Tanpa pretensi apapun dalam melakukan apa yang mereka yakini adalah cara yang paling terpuji untuk bersenang-senang. Adalah suatu anugrah untuk dapat menikmati proses demi proses tumbuh kembang, menyaksikan sekaligus mengamati apa yang menjadi tawaran demi tawaran yang dapat di tangkap oleh panca indra. Untuk itulah bersyukurpun harus dilakukan dengan suatu tindakan yang tetap menghormati nilai estetis dan sekaligus dapat di bagikan kepada khalayak. Entah tentang perspektif, maupun tentang nilai –nilai yang dapat kembali direpresentasikan kembali kedalam bentuk karya visual yang akan kembali di pamerkan kedalam sebuah lingkup galeri. Hal tersebut memudahkan bagi khalayak ramai untuk berkumpul, bertemu kangen, sekaligus dapat kembali menikmati wahana, menilai, syukur-syukur mendiskusikannya. Hal yang menjadi sangat tak ternilai kembali oleh apapun, karena pembelajaran akan menjadi sangat maksimal jika sesuatu pokok permasalahan – bahan dapat di pecahkan secara kroyokan, kembali kemudian ditinjau ulang, untuk kembali menjadi bekal atraksi kedepan.

DOPAMINE ATTACK, meminjam istilah sains, adalah zat yang menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf yang lain) dan merupakan perantara bagi biosintesis hormon adrenalin dan noradrenalin (Dopamine sangat berperan dalam proses berpikir (cognitive). Proses berpikir ini sering disebut dengan kemampuan otak untuk memproses informasi. Artinya dopamine ini dapat membuat otak jadi “encer”. Dopamine juga berfungsi dalam memotivasi manusia. Motivasi ini bisa berguna untuk hal-hal biologis, seperti makan, hobi, dan untuk motivasi mengejar suatu tujuan tertentu. Bukan itu saja, motivasi ini juga mempengaruhi keinginan anak untuk menjadi ideal atau sempurna. Keinginan untuk memberi juga merupakan salah satu akibat dari Dopamine.

"Kepekaan panca indra - merekam - naluri melakukan sesuatu - kesenangan/kepuasan hati"

Berangkat dari itulah, kami kemudian berpikir untuk melakukan “ibadah” syukuran karena telah di berikan suatu zat atau apapun untuk dapat merepresentasikan kembali dari ragam visual yang ada kedalam bentuk karya seni. Sekali lagi mungkin tanpa pretensi atau agenda tetek bengek apapun.

Asktetika yang sangat lama, jika menilik tenggat ternyata datang mendekat. Menjadikan saya kelimpungan untuk mengantar beberapa kerabat, kawan terdekat untuk menggeber dunia seni di kota kecil yang selalu kita maknai sebagai proses tumbuh kembang, mempertontonkan hasil demi hasil eksplorasi. Bukan hanya menjadi uji coba akan tetapi selalu dilandasi dengan energi dan kecintaan mereka dalam merumuskan sebuah karya visual yang terselip dari kesibukan kawan-kawan dalam rutinitas yang melenceng jauh dari bidang kesenian itu sendiri. Ya, suksesi ritme yang berakhir menjadi bentuk dari banting tulang para kuartet muda berbakat. Yes, Here they come.
Dopamine Attack!
Sebuah afinitas dari kuartet yang melakukan persekongkolan dengan tepat. Menangani cara mereka bersenang-senang, Merumuskan kembali agenda, dari beberapa sudut yang berbeda, masih dalam lingkup kecintaan terhadap seni tentunya. Meluncur lurus menunjukan kepada level potensi yang lebih mumpuni. Kuartet pemuda berbakat, yang berhasil mengkristalisasikan kecintaan tanpa tedeng aling-aling atau syarat maupun agenda tertentu. Belakangan, mereka menjawab bahwa untuk sebuah inspirasi tidak perlu permisi. Ya, untuk itu mereka menggelar wacana, merumuskan masalah, dan diakhiri dengan eksekusi maha berani.
Salah satu bentuk dari sebuah evolusi emosional dari dalam diri. Menjawab eksistensi dari sebuah keseriusan yang memang di bangun dari titik nol, mengingat para pelaku dari keempat pelaku seninya adalah hidup dari bidang yang bukan tercetak sengaja menjadi seorang seniman. Hanya sebuah panggilan, dari apa yang sains temukan, bahwa Dopamine ( kepekaan panca indra - merekam - naluri melakukan sesuatu - kesenangan/kepuasan hati ) menjawab apa yang secara naluriah menjadikan mereka merancang sebuah wahana yang ada. Dengan detil estetis yang terbentuk tanpa pretensi apapun, merefleksikan kembali dari beberapa tahun belakangan, yang membuat mereka mencetak kenangan, imajinasi, mimpi menjadi suatu bagian yang dapat mereka representasikan kembali kedalam bentuk visual, sehingga khalayak dapat ikut pula menikmatinya. Di tilik dari perspektifnya, mereka mencoba menawarkan dari empat segala bentuk kesenangan yang setidaknya mampu menjadikan pedoman, bahwa untuk menjadikan semua nampak indah tidak harus sama. Sebut saja, kecenderungan kawula muda kini, sarat akan sesuatu yang hype lalu di cloning sedimikian rupa hingga menjadi bentuk dominasi. Dan sialnya, di kota kecil ini segala bentuk dominasi selalu mencetak keseragaman.
Menyulap beberapa kultur anak muda yang tergila gila dengan musik, manuver skateboard, detil dan ragam toys, hingga imajinasi tentang apiknya karakter monster, berhasil di visualisasikan kembali secara jujur ke dalam bentuk tawaran visual yang aduhai apiknya. Beberapa kali merancang melakukan eksibisi swadaya di tahun belakangan, membuat mereka sadar bahwa untuk melakukan suatu movement butuh jutaan eksistensi yang mereka jawab kembali melalui Dopamine Attack Exhibition. Sebuah penghargaan terbesar saat menyadari bahwa Tuhan memberikan kemampuan kepekaan yang lebih untuk menikmati semesta, apalagi untuk berkesempatan, menggambarkan kembali dalam wahana kembali yang secara mantap di beri nama “Dopamine Attack”.


Arief Yulindra Priyantoro



















































5 Isnen Bahar: Dopamine Attack, Rumahku Art Cafe DOPAMINE ATTACK ART EXHIBITION OF  DONI DERMAWAN, GUMILAR LUKISANI,  ISNAIN BAHAR SASMOYO,  RAKA ADITYATAMA Writer : Arief ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

< >
Isnen Bahar. Diberdayakan oleh Blogger.